Warga ragu proyek pembangunan jembatan lama Nambangan, Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri dapat selesai sesuai jadwal, yaitu 10 Juni 2021 mendatang.
Mereka menilai kontraktor sering menghadapi masalah selama mengerjakan proyek senilai Rp12,952 miliar. Masalah itu terjadi akibat meningkatnya debit air Sungai Bengawan Solo secara tajam. Kondisi itu membuat warga khawatir pengerjaan proyek jembatan penghubung Kabupaten Wonogiri-Kabupaten Sukoharjo melalui Dusun Nambangan itu akan lebih lama dari yang seharusnya.
Warga sekitar lokasi proyek, Sukirman, saat ditemui Solopos.com, di Nambangan, Selasa (13/4/2021), mengatakan durasi pengerjaan tinggal lebih kurang dua bulan lagi. Tetapi, sampai Selasa itu tiang penyangga utama jembatan di sisi selatan dan utara belum terbangun.
Bahkan, kontraktor terlihat sering menghadapi kendala karena debit Sungai Bengawan Solo sering naik tajam. Puncaknya, ketika pintu utama atau spillway bendungan Waduk Gajah Mungkur (WGM) dibuka. Ketika hal itu terjadi dapat dipastikan lokasi proyek tergenang air. Kali terakhir peristiwa itu terjadi pada Minggu-Senin (11-12/4/2021) lalu.
“Biasanya jika seperti itu [lokasi proyek tergenang air sungai] pekerja menunggu sampai debit air sungai turun dulu. Setelah itu genangan air di lokasi proyek dibuang pakai mesin penyedot. Setelah memungkinkan, pekerjaan dilanjut lagi. Jika air sungai naik lagi ya tergenang lagi,” kata Sukirman.
Dia menyatakan pandangan tersebut dari kaca mata orang awam. Sukirman memahami kontraktor berani mengikuti lelang proyek tersebut karena telah mengetahui risiko yang akan dihadapi. Dia berharap kontraktor mempunyai cara untuk mengatasi masalah itu, supaya proyek dapat selesai sesuai jadwal.
Jika proyek Jembatan Nambangan Wonogiri dapat selesai tepat waktu warga ikut senang. Jalan alternatif menuju Sukoharjo itu akan kembali ramai. Tempat usaha yang dijalankan warga dapat ramai pembeli lagi.
Demikian halnya sebaliknya. Saat ini saja warga yang membuka usaha di tepi jalan sudah mengeluh karena sepi pembeli. Bahkan, tidak sedikit yang sampai menutup usaha. Jika proyek tidak kunjung selesai, secara otomatis kondisi memprihatinkan tersebut juga akan berlangsung lama.
“Selama proyek belum selesai warga yang mau ke Pasar Nguter [Sukoharjo] harus berputar lewat jalan raya Wonogiri-Sukoharjo. Jaraknya cukup jauh. Harapannya proyek cepat selesai, sehingga semuanya dapat lancar,” imbuh Sukirman.
Warga lainnya, Siman, mengatakan hal senada. Dia menginformasikan, setiap hari ada warga yang datang mengecek progres proyek. Warga prihatin karena debit air sungai cukup sering naik secara tiba-tiba yang membuat lokasi proyek tergenang. Kondisi itu membuat pekerjaan terhambat.
Terpisah, Koordinator lapangan kontraktor proyek bersangkutan, Kasih, sampai berita ini ditulis belum dapat dimintai konfirmasi. Saat dihubungi dia tidak mengangkat telepon. Pesan singkat yang Solopos.com kirim tak direspons. Sebelumnya, dia tak memungkiri naiknya elevasi atau tinggi muka air Sungai Bengawan Solo menjadi masalah tersendiri.
Masalah itu diatasi dengan memasang lempeng besi dan membuat tanggul dari susunan kresek berisi tanah di sekeliling lokasi proyek. Namun, ketinggian muka air melampaui struktur tersebut, sehingga air masuk ke area itu. Kendati demikian, Kasih tetap optimistis proyek dapat tepat waktu.
Sumber : Solopos
GSM Certification salah satu Jasa Sertifikasi ISO Terpercaya di Indonesia, Sudah banyak membantu perusahaan (Kontraktor, Manufaktur, General Services Provider, Pemerintah dan Non Pemerintah, etc) dalam proses Sertifikasi ISO. GSM Certification juga sudah banyak bekerjasama dengan Asosiasi Kontraktor di Indonesia.